[Review Film] Film Favorit di Tahun 2018
1. A Kid Like Jake - Juni 2018
Film ini diangkat dari sebuah drama panggung dengan judul yang sama karya Daniel Pearle. Film yang bercerita tentang sepasang suami-istri Greg Wheeler dan Alex Wheeler, diperankan oleh Jim Parsons dan Claire Danes yang menjadi orang tua dari seorang anak LGBT bernama Jake diperankan oleh Leo James Davis. Jake, bocah laki-laki berusia empat tahun akan segera masuk sekolah di sebuah Taman Kanak-Kanak. Namun, Jake berbeda dengan anak laki-laki lain pada umumnya. Ia lebih senang bermain boneka, permainan anak perempuan, dibanding pahlawan super yang memang diperuntukkan bagi laki-laki sepertinya.
Judy, Judith "Judy" Lawson diperankan oleh Octavia Spencer, guru Jake di PAUD menyarankan agar Greg dan Alex memasukkan Jake ke sekolah khusus. Tetapi, Alex menolak usulan itu. Kedua orangtuanya pun berusaha mencari jalan keluar agar dapat tetap membesarkan Jake. Sebab, tak ada sekolah yang mau menerima Jake dengan kepribadiannya yang seperti itu.
Kisah Jake yang diadaptasi dari naskah panggung teater karya Daniel Pearle ini memberi pemahaman baru bahwa transgender tak hanya terjadi pada orang dewasa saja. Sebagai ibu, Alex berusaha menutupi keganjilan putranya sementara Greg ayahnya, berusaha mencari jalan untuk memahami apa yang terjadi pada anaknya.
Alur ceritanya tak biasa dan tidak begitu rumit untuk dipahami. Penonton diajak untuk mengenali sifat-sifat transgender sedari dini. Hingga saat ini transgender masih menuai banyak perdebatan di lingkungan masyarakat.
2. Eighth Grade - Juli 2018
Kayla Day diperankan oleh Elsie Fisher merupakan seorang siswi pemalu yang duduk di kelas delapan. Ia sedang mencari jati dirinya dengan berpura-pura tampil percaya diri. Kayla banyak mengunggah video di YouTube. Video-videonya berisi tentang bagaimana menjadi percaya diri dan bagaimana membawa diri dalam pergaulan. Walau kenyataannya, dia sendiri tidak benar-benar tahu apa yang harus dilakukannya. Isi videonya benar. Tips-tips itu tak ada yang salah hanya saja untuk mempraktikkannya tak semudah mengatakannya.
Kayla berusaha untuk berteman di sekolah tapi ia justru mendapatkan penghargaan "siswa paling diam" dari teman-teman sekelasnya. Sementara itu, ayahnya, Mark diperankan oleh Josh Hamilton, berusaha menjalin hubungan dengan Kayla agar dapat menjauhkan putrinya dari ketergantungan media sosial. Berbagai momen dan konflik pun terjadi. Kayla sempat membuat sebuah video yang berisi keinginannya untuk berhenti menayangkan video lagi. Ia merasa tak pantas memberi nasihat ketika dirinya sendiri tidak sanggup mengikuti semua yang pernah dikatakannya.
Kehidupan remaja zaman now yang seringkali lebih asyik dengan gadget ditampilkan dengan apik dalam film ini. Ceritanya yang dekat dengan kehidupan membuat kita mudah terhanyut untuk ikut tertawa dan menangis. Sosok Kayla yang introvert, banyak kita jumpai di sekeliling kita. Kita mungkin tidak tahu tapi barangkali ada di antara mereka yang ingin keluar dari diri introvert itu. Mereka terus meyakinkan diri bahwa mereka percaya diri dan layak dijadikan teman. Namun sebenarnya, kepada diri kita sendirilah kita harus yakin bahwa kita telah menerima diri kita dengam segala kekurangannya barulah kita bisa benar-benar tampil percaya diri.
Kayla berusaha untuk berteman di sekolah tapi ia justru mendapatkan penghargaan "siswa paling diam" dari teman-teman sekelasnya. Sementara itu, ayahnya, Mark diperankan oleh Josh Hamilton, berusaha menjalin hubungan dengan Kayla agar dapat menjauhkan putrinya dari ketergantungan media sosial. Berbagai momen dan konflik pun terjadi. Kayla sempat membuat sebuah video yang berisi keinginannya untuk berhenti menayangkan video lagi. Ia merasa tak pantas memberi nasihat ketika dirinya sendiri tidak sanggup mengikuti semua yang pernah dikatakannya.
Kehidupan remaja zaman now yang seringkali lebih asyik dengan gadget ditampilkan dengan apik dalam film ini. Ceritanya yang dekat dengan kehidupan membuat kita mudah terhanyut untuk ikut tertawa dan menangis. Sosok Kayla yang introvert, banyak kita jumpai di sekeliling kita. Kita mungkin tidak tahu tapi barangkali ada di antara mereka yang ingin keluar dari diri introvert itu. Mereka terus meyakinkan diri bahwa mereka percaya diri dan layak dijadikan teman. Namun sebenarnya, kepada diri kita sendirilah kita harus yakin bahwa kita telah menerima diri kita dengam segala kekurangannya barulah kita bisa benar-benar tampil percaya diri.
3. A Man Called AHOK - November 2018
Merupakan biografi perjalanan hidup Basuki Tjahaja Purnama yang lebih kita kenal dengan nama Ahok. Kisah ini berawal dari lingkungan keluarga, perjalanan karir di dunia bisnis hingga ke dunia politik seorang Ahok.
Film ini menggambarkan bagaimana peranan sebuah keluarga, khususnya sang ayah, dalam membentuk karakter Ahok yang diperankan oleh Daniel Mananta. Kisah penuh perjuangan dan ketulusan ini diangkat dari novel karya Rudi Valinka dengan judul yang sama. Sepak terjang Ahok tentu sudah sangat dikenal masyarakat. Meski berasal dari ras minoritas, Ahok tak pernah ragu untuk masuk dalam dunia politik dan maju ke depan publik.
Kim Nam diperankan oleh Chew Kin Wah merupakan Ayah Ahok yang terkenal keras dalam mendidik anak-anaknya. Beliau juga seorang pengusaha timah yang sangat terpandang di Belitung Timur. Tak hanya dikenal sebagai bos besar (tauke) Kim Nam lebih diingat sebagai pengusaha dermawan yang sangat suka membantu tetangga-tetangganya meski kondisi keuangannya dalam keadaan terbatas. Kebaikan ini pula yang terus ditanamkan Kim Nam kepada anak-anaknya sedari masih kecil.
Hingga suatu hari muncul kebencian Ahok pada sang Ayah karena menentang keinginannya untuk bekerja di pemerintahan. Kim Nam ingin anaknya menjadi seorang dokter. Sebab, pada masa itu, dokter di Belitung masih sangatlah sedikit. Perjalanan panjang Ahok pun dimulai. Ahok mengawali karirnya menjadi anggota DPRD kemudian mencalonkan diri sebagai Bupati di kota kelahirannya di Belitung Timur. Perjalanan Ahok tidaklah mulus. Ada banyak pihak yang mencoba menghalangi. Kendati demikian, Ahok tetap berjalan maju. Ia memegang teguh amanat ayahnya yang ingin agar dirinya dapat memperjuangkan nasib orang banyak.
Kim Nam diperankan oleh Chew Kin Wah merupakan Ayah Ahok yang terkenal keras dalam mendidik anak-anaknya. Beliau juga seorang pengusaha timah yang sangat terpandang di Belitung Timur. Tak hanya dikenal sebagai bos besar (tauke) Kim Nam lebih diingat sebagai pengusaha dermawan yang sangat suka membantu tetangga-tetangganya meski kondisi keuangannya dalam keadaan terbatas. Kebaikan ini pula yang terus ditanamkan Kim Nam kepada anak-anaknya sedari masih kecil.
Hingga suatu hari muncul kebencian Ahok pada sang Ayah karena menentang keinginannya untuk bekerja di pemerintahan. Kim Nam ingin anaknya menjadi seorang dokter. Sebab, pada masa itu, dokter di Belitung masih sangatlah sedikit. Perjalanan panjang Ahok pun dimulai. Ahok mengawali karirnya menjadi anggota DPRD kemudian mencalonkan diri sebagai Bupati di kota kelahirannya di Belitung Timur. Perjalanan Ahok tidaklah mulus. Ada banyak pihak yang mencoba menghalangi. Kendati demikian, Ahok tetap berjalan maju. Ia memegang teguh amanat ayahnya yang ingin agar dirinya dapat memperjuangkan nasib orang banyak.
Budaya Tionghoa dalam film ini sangat apik. Salah satunya adalah tentang tingginya harga diri. Penggunaan bahasa Khek dalam beberapa dialognya juga menjadi nilai tambah yang kian menghidupkan cerita. Kasih sayang tidaklah selalu manis. Seringnya bahkan kasih sayang itu tidak tersampaikan dengan baik. Tetapi, bagaimanapun kasih sayang orang tua kepada anaknya akan selalu sepanjang masa.