[CERMA] Gadis Kecil Mama
![]() |
| Dimuat di GoGirl! Magazine 01 Juli 2017 |
Gadis Kecil Mama
Oleh: Iliana Loelianto
Ketika alarm berbunyi jam lima pagi, aku sudah terbangun cukup lama. Keresahan yang menyelimuti hatiku membuatku tak sanggup tidur lama-lama. Suara Mama di telepon kemarin malam masih terus terngiang.
Pukul sepuluh pagi ini Mama memintaku untuk menjemputnya di stasiun kereta. Ini akan menjadi hal yang lumrah, jika saja aku dan Mama memiliki hubungan yang dekat. Tetapi kenyataannya, kami tidak.
Itu sebabnya aku mengutarakan maksud untuk meminta Papa menemani. Namun, dengan tegas Mama menolak. Mama ingin aku sendiri yang pergi menjemputnya.
“Ada hal penting yang ingin Mama katakan padamu, Kiara. Sudah waktunya bagi kamu untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi antara Mama dan Papa,” kata Mama sebelum memutuskan komunikasi.
Kalimat mengambang itulah yang kemudian terus berputar dalam pikiranku. Menimbulkan pertanyaan-pertanyaan lain yang membuat dadaku semakin terasa sesak.
Apa yang ingin Mama katakan? Mengapa baru sekarang Mama ingin mengatakannya? Kemana saja Mama selama ini?
Hingga kini, kepergian Mama masih menyisakan tanda tanya besar untukku. Namun, delapan tahun kepergiannya adalah waktu yang cukup untuk membuatku lupa bahwa aku masih memiliki seorang Mama.
Semua pekerjaan rumah tangga yang harusnya menjadi bagian Mama diambil alih oleh Papa. Termasuk dalam hal memasak. Seperti pada pagi ini dan beribu-ribu hari sebelumnya. Dua piring nasi goreng telah terhidang di atas meja ketika aku memasuki ruang makan.
“Selamat pagi, Pa,” sapaku pada Papa yang sudah lebih dulu duduk di meja makan sambil membaca koran.
“Selamat pagi, tuan putri Papa yang cantik,” balas Papa sambil mengedipkan sebelah matanya.
Papa segera melipat koran yang masih terbuka di tangannya lalu meletakkannya begitu saja di atas meja makan. Kemudian, kami sarapan bersama.
***
Bila pada akhirnya aku memutuskan untuk menjemput Mama, bukan berarti aku telah memaafkannya. Melainkan, karena rasa hormatku pada wanita yang telah melahirkanku ke dunia.
Stasiun kereta tidak begitu ramai saat aku tiba. Aku bergegas mencari bangku kosong agar dapat dengan leluasa melihat penumpang yang turun dari gerbong di semua jalur kereta.
Berbekal selembar foto usang Mama yang kuambil dari laci meja kerja Papa, aku mengamati semua orang yang berlalu lalang di hadapanku. Sesekali kulirik foto Mama sambil berusaha mengumpulkan semua ingatanku pada kenangan yang pernah terukir bersama Mama. Namun, sia-sia. Ingatan itu benar-benar telah hilang dari benakku.
Kepalaku menengadah ketika mendengar seruan yang memanggil-manggil namaku. Seorang wanita anggun berdiri tak jauh dari tempatku duduk. Kuperhatikan rupa wanita itu lalu membandingkannya dengan foto yang masih ada dalam genggamanku.
Wajahnya persis sama. Alisnya yang tebal menaungi kelopak matanya yang sebesar biji almond. Rambut panjangnya yang bergelombang tetap dibiarkan tergerai walau sudah tampak ubanan. Garis-garis wajahnya yang dulu kencang kini dipenuhi kerutan. Betapa cepatnya waktu mengubah rupa seseorang.
Setengah berlari Mama menghampiriku. Kedua tangannya terentang lalu meraihku ke dalam pelukannya. Rasa hangat menjalar di sekujur tubuhku kala Mama membenamkan bibirnya di atas kepalaku. Sebuah rasa yang telah lama tak kurasakan hingga nyaris membuatku terlena.
“Kiara, anak Mama,” bisiknya di telingaku setengah bergumam.
Refleks aku menarik diri dan menepis tangannya yang masih mendekap erat tubuhku. Mama tampak terkejut namun tetap bergeming. Sorot matanya memancarkan kesedihan.
Kualihkan pandanganku dari matanya. Kecanggungan melingkupi kami. Agak kikuk, aku membantu membawakan tas tangannya.
"Apa kamu pernah mencari Mama?"
Langkahku terhenti mendengar pertanyaan itu. Aku membalikkan tubuh lalu menatap biji mata cokelatnya lekat-lekat.
Sekelebat bayangan masa lalu saat aku mencari Mama dalam mimpi buruk hadir kembali di pelupuk mataku. Menari-nari seakan hal itu baru saja terjadi.
Malam itu aku menjerit dan meraung mencari Mama. Suhu tubuhku yang tiba-tiba panas membuat Papa sangat panik dan kalut. Papa berusaha keras menenangkanku. Mengompres keningku hingga pagi menjelang. Semalaman Papa tidur di sampingku dan menemaniku agar lekas terlelap.
Selalu di setiap waktuku, aku berharap Mama akan pulang dan berkumpul lagi dengan kami. Lalu, kami akan kembali menjadi keluarga kecil yang utuh dan bahagia. Akan tetapi, Mama tak pernah pulang. Hingga aku pun merasa lelah untuk memikirkan Mama.
Aku menelengkan kepala ke kiri, melemparkan masa itu kembali ke masa lalu. Kemudian, dengan sangat pelan aku menggelengkan kepala.
"Tidak pernah," jawabku berbohong.
***
Taksi membawa kami pergi meninggalkan stasiun kereta. Kendaraan itu melaju cepat menuju Bintaro. Sepanjang perjalanan itu, kami hanya duduk dalam diam sambil memandang ke luar jendela. Larut dalam pikiran masing-masing.
“Mama dan Papa sudah bercerai sejak kamu berumur lima tahun, Kiara. Tapi, Mama dan Papa memutuskan untuk tetap tinggal bersama sampai kamu dewasa. Kami ingin agar kamu dapat menikmati masa kecil yang bahagia."
Suara Mama memecah keheningan panjang yang menguasai kami. Sontak aku menoleh. Bibirku mencoba untuk bergerak tapi aku masih terlalu terkejut untuk bertanya kenapa.
Papa tak pernah bercerita apa-apa tentang hal itu. Bahkan, dulu setiap kali aku mengungkit tentang Mama di depan Papa, wajah Papa selalu tampak semringah. Seolah tak ada masalah apa-apa dalam hubungan mereka.
Keterkejutanku masih belum sirna ketika Mama menggenggam jemariku dan melanjutkan kalimatnya. "Lalu, empat tahun setelah itu, instruktur tari Mama memberitahu kalau Mama mendapat kesempatan untuk memperkenalkan tarian daerah Indonesia di Brisbane dalam sebuah kompetisi. Mama pikir, itu adalah kesempatan emas. Mama ingin membawamu tapi keadaan disana tak memungkinkan untuk membawa anak kecil.”
Mama mengambil jeda sejenak seraya mengeratkan genggamannya. “Sehari sebelum keberangkatan Mama, Papa mengusulkan agar kamu tinggal bersama Papa hingga usia tujuh belas tahun. Setelah itu kamu bisa ikut tinggal dengan Mama. Akhirnya, Mama menyetujui ide Papa itu.”
Mendadak kepalaku terasa pening. Apakah itu alasan Mama sehingga baru mencariku sekarang? Untuk membawaku pergi bersamanya?
Pertanyaan demi pertanyaan yang dulu tak pernah kutemukan jawabnya kini tersibak satu per satu. Kutundukkan kepala lalu menitikan air mata yang sedari tadi tertahan kemudian menangis dalam diam.
“Mama minta maaf karena sudah meninggalkanmu, Kiara. Waktu itu kamu masih kecil untuk mengerti apa yang terjadi.” Tangan Mama merengkuh dan mendekapku.
Kepalaku mendongak dan menatap manik mata Mama lekat-lekat. Mencoba mencari pembenaran atas kata-kata yang keluar dari mulutnya itu.
Mama benar. Dunia kecilku dulu hanya dipenuhi dengan mainan. Aku belum mengerti tentang arti kehidupan yang ternyata tak semanis permen yang Mama dan Papa belikan. Aku juga belum bisa memahami bila ada masalah di antara Mama dan Papa.
Namun, itu semua karena kalian selalu tampil di depanku dengan senyuman. Setiap bersamaku kalian terus melimpahkan kasih sayang yang begitu besar sambil menutupi perdebatan yang sebenarnya sudah ada. Kalian malah rela menipu diri sendiri dengan menimbun kelu hanya agar aku bisa seperti teman-temanku yang lain. Memiliki keluarga kecil yang utuh dan bahagia.
Ah! Mama.
Tahukah kau, betapa inginnya aku memanggilmu di saat-saat terapuh dalam hidupku.
Tahukah kau, begitu banyak cerita yang ingin aku bagikan denganmu. Tentang pacar pertamaku. Juga, tentang kegelisahanku sebagai wanita dewasa.
Tahukah kau, tak pernah ada yang cerewet membangunkanku dari tidur bila fajar menyingsing. Tak ada juga yang tahu makanan apa yang kusuka. Bahkan, tak ada yang memilihkan gaun yang pas untuk kukenakan pada kencan pertamaku.
***
Papa terperanjat dari duduknya sewaktu melihat aku dan Mama masuk ke dalam rumah. Sepasang mata kuyunya menatap Mama dengan penuh kerinduan. Sebaliknya, Mama justru memandang Papa dengan tatapan yang tak terbaca.
“Kau pasti sudah memberitahu Kiara tentang kita.”
Kulihat Mama menganggukkan kepalanya pelan.
“Aku menyerahkan semua keputusan pada Kiara. Biar dia yang menentukan akan tinggal bersama siapa,” kata Papa seraya menahan dehamannya kemudian berlalu dari hadapan kami.
Sekali lagi Mama hanya menganggukkan kepala. Walau, sorot matanya terus menghujam tajam ke arahku. Setengah memaksa agar aku ikut dengannya. Namun, aku tetap bungkam dan memilih untuk masuk ke kamar.
***
“Kenapa Mama begitu suka menari?” tanyaku pada malam harinya ketika kami tidur bersisian di kamarku.
Mama menoleh lalu tersenyum tipis. “Sejak kecil Mama suka sekali menonton pertunjukan tari. Apalagi, ketika Mama melihat liukan gemulai para penari yang diiringi dengan tabuhan gamelan. Itu membuat Mama merinding. Tanpa sadar, tangan dan kaki Mama akan ikut bergoyang. Mengikuti gerakan lincah yang Mama lihat itu. Sejak saat itulah, Mama tahu kalau Mama telah jatuh cinta pada tarian daerah.”
Lalu, dengan mata yang berbinar-binar Mama menceritakan semua jenis tari-tarian yang kini telah dikuasainya. Juga tentang impiannya untuk menjadi penari internasional. Impian besar yang terpaksa kandas ketika Mama dijodohkan dengan Papa.
Sorot mata Mama ikut meredup ketika menceritakan kekalahannya dalam kompetisi di Brisbane. Kegagalan yang terpaksa membawanya pulang ke rumah Nenek. Kendati demikian, semangat menari dalam diri Mama tak pernah pudar. Di Tegal, Mama telah berhasil mendirikan sebuah sanggar tari.
"Terus kenapa Mama dan Papa bercerai?"
Mendung tampak bergelayut di wajah Mama. Membuatku tersadar kalau ada yang salah dengan pertanyaanku. Kulihat tangan Mama menyeka air mata yang nyaris mengalir dari pelupuk matanya. Hingga kemudian, tangisan itu berubah menjadi pilu dalam sekali kerjapan.
"Karena, Mama tak bisa mencintai Papamu sebaik dia mencintai Mama," ujar Mama di sela isak tangisnya. Tak lama setelah itu, Mama jatuh tertidur.
Aku memikirkan kembali jawaban Mama. Bukankah lebih baik hidup bersama dengan seseorang yang mencintai kita dibandingkan dengan seseorang yang kita cintai tapi tidak mencintai kita? Sebab, cinta dapat tumbuh melalui kebersamaan. Itulah pemahamanku. Tapi, mungkin berbeda dengan pemahaman Mama.
Setelah bincang-bincang kami malam ini, aku mencoba untuk memahami apa yang dialami dan dirasakan Mama. Kurasa sudah saatnya aku membuka hatiku lagi untuknya. Bagaimana pun juga, aku bisa ada di dunia ini karena Mama.
Seperti Mama yang telah mengambil keputusan besar untuk hidupnya, aku pun begitu. Aku telah memilih dan memantapkan hati pada pilihanku. Terlepas dari apa yang sudah Mama lakukan di masa lalu, aku tetap menyayanginya. Tetapi, biarlah Kiara yang tertinggal dalam ingatan Mama adalah Kiara yang pernah menjadi gadis kecil Mama.
